Rabu, 08 Juli 2009

Para Kades Kecewa, … ”Bupati” Cuek

Walaupun masih ada beberapa desa yang belum menerima program ADD un­tuk tahun anggaran 2009, namun gaung kekecewaan para kepala desa terhadap pihak Pemkab Bondowoso sudah mulai nampak. Mengapa tidak, program ADD pada ta­hun anggaran 2008 yang tel­ah mereka terima rata-rata kurang lebih sebesar 90 juta rupiah, penurunan angka nominal program ADD saat ini sangat signifikan jika mengacu pada tahun sebelumnya. Pada tahun ini rata-rata me-reka menerima bantuan seki­tar 60 juta rupiah lebih, atau antara 33% s/d 38% berkurang dari tahun sebelumnya.Ini merupakan preseden bu­ruk terhadap pemerintah ka­bupaten, dan khususnya Bu-pati Amin Said Husni yang pemerintahannya baru ber­jalan kurang lebih 8 bulan.

Masih ingat ditelinga kita semua ketika kampanye pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Bondowoso tahun 2008 kemarin yang disam­paikan oleh salah satu juru kampanye waktu itu, bahwa Cabup Amin merupakan so-sok calon pemimpin yang mumpuni khususnya dibidang anggaran, sebab dia salah satu anggota Panggar di DPR Pusat, sehingga tidak heran apabila sebagian besar kepa­la desa banyak menjadi pen­dukung dan juga sekaligus sebagai tim sukses peme­nangan Amin-Haris. Namun, tidak demikian kenyataanya setelah Amin Said Husni menjabat Bupati Bondow­oso, apa yang menjadi hara­pan masyarakat umumnya dan kepala desa pada khu­susnya ternyata tidak sesuai dengan janji-janji yang ter­lontar ketika menjual pro­gram guna kepentingan suk­sesi Pilbup yang lalu.

Kepala desa melalui perwakilannya dalam satu ke­camatan yang diwakili oleh dua orang kades secara ber­gilir atau bergantian , setiap sabtu berkumpul di kantor Desa Cindogo Kecamatan Tapen membahas tentang kebi­jakan-kebijakan bupati Amin utamanya kebijakan yang menyangkut masyarakat desa, diantaranya masalah pertanian, santunan kematian, ADD, program-program pember­dayaan masyarakat desa, dll. Kepada wartawan Merah Pu­tih Post, salah satu kades yang namanya enggan diko­rankan menuturkan, “Saya merasa kecewa atas janji-janji bupati yang ternyata han­ya teori-teori saja”. Para ka-des menganggap bupati cuek terhadap keinginanan masyarakat, beliau hanya ingin menunjukkan bahwa ide-ide yang muncul dari beliau saja yang perlu dilaksanakan, se­mentara apa yang diusulkan desa sama sekali tidak digu­bris. ”Padahal saya beserta masyarakat desa pada Pil­bup kemarin hampir 66% memilih Amin-Haris, dengan harapan ada perubahan pada desa saya, nyatanya yah te-tap tidak ada perubahan”, imbuhnya penuh sesal.

Di tempat terpisah, Mabrur, Kades Sumber Suko juga menyatakan kekecewaan dan penyesalan yang san­gat dalam atas kepemimpi­nan bupati Amin. Dia meni­lai kalau Bupati Bondowoso yang sekarang sangat lam­ban dalam merespon aspira­si masyarakat, “Seharusnya pemerintah kabupaten lebih berpihak kepada pemerinta­han desa dan masyarakat”, ungkapnya. Dia juga meng­gambarkan kondisi sarana infrastruktur yang ada di se­luruh wilayah kabupaten Bondowoso sekarang banyak yang memprihatinkan seper­ti yang dia contohkan, jalan menuju wisata Kawah Ijen, jalan daerah di desa Mengok menuju desa Jambesari, ja­lan di sekitar kecamatan Taman Krocok dan masih banyak sarana infrastruktur pengairan yang amburadul namun masih dibiarkan ter­bengkalai.

“Saya akan memper­juangkan aspirasi teman-te­man kades sebagai kepan­jangan tangan dari masyar­akat desa untuk bisa mema­jukan Bondowoso ke depan”, jelas Harley Caleg terpilih dari PPP yang juga mantan kades Cermee. Setelah kepengurusan SKAK terbentuk nanti yang deklarasinya di­lakukan di kantor DPRD Bondowoso, mereka secara res­mi akan membuat pernyat­aan sikap kepada Bupati Amin, SH. Ditanya soal apa, “rahasia, dan suatu saat nanti kita semua pasti akan ta­hu”, jawabnya singkat. (Pj)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar